Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatu.
![]() |
| Ketgam : Bram Barakatino |
"Racun yang Berbahaya bukanlah Racun yang tinggi kadarnya dapat diketahui. Racun yang berbahaya adalah Ia yang terus menerus dikonsumsi tanpa sadar bahwa itu Racun"
Salam sejahtera sahabat pembaca yang budiman dimanapun anda berada.
Di era milenial ini, banyak fenomena politik yang kerap memicu kontroversi. Dimulali dengan propaganda, ujaran kebebcian bahkan Kadang pertumpahan darahpun tidak terlewatkan.
Mungkin bukan hanya Saya, bisajadi diluar sana juga banyak yang bertanya - tanya, apakah politik hanya menjadi sarana perpecahan dan memicu konflik dimana - mana.
Namun bukanlah demikian Kawan. Jika bernar seperti itu adanya, tentu politik tidak akan menjadi disiplin ilmu. Sesuatu tidak serta - merta menjadi ilmu begitu saja, sebelum melewati beberapa tahapan pengkajian yang matang dan tersusun. Pada hakikatnya, ilmu haruslah mengandung nilai - nilai positif lebih dominan untuk kehidupan manusia.
Fenome Politik yang kian hari kian menggambarkan pergeseran cita - cita Bangsa, Moral bahkan konstitusi yang di anut oleh Negara Repoblik ini, tentu memiliki sebab dan juga menuju pada satu titik konsekuensi. Mungkin Saya tidak arif jika harus nenuduh siapa dalang dari semua kehancuran ini. Akan tetapi, sebagai Manusia yang punya empati, patut jika harus bertanya dan meneliti, karna begitu bahayanya jika semua kekacauan ini adalah ciptaan segelintir orang tertentu.
Jika demikian adanya, pembunuhan karakter tanpa adab dan Pri Kemanusiaan ini harus dihapuskan.
Sejenak kita merefleksi Fenomena yang ada di sekeliking kita. Disana anda akan melihat aneka macam jenis kegiatan ekonomi. Hal yang harus kita fikirkan, dimanakah Pemerintah harus benar - benar menenpatkan diri.
Kejahatan yang terstruktur telah membuat Bangsa ini hancur berantakan.
Tatanan politik mengubah sistem Pemerintahan menjadi amat diktator. Luapan keserakahan lambat laun memudarkan nilai - nilai Kemerdekaan. Kini di seluruh Pelosok Negeri hanya hidup Masyarakat berteman keluh kesah. Ketika akses Publik berubah menjadi "dagangan" Pemerintahan, keadilan kini mulai diperjual belikan, bahkan bersuara harus mengacu pada aturan - aturan yang dibuat oleh kakitangan Penguasa.
Keterpurukan dan kemiskinan menjadi "juaalan" Orang - Orang yang haus akan kekuasaan. Dengan politik palsunya, celoteh tentang angan - angan dan janji - janji kesejahteraan diteber. Meski tak sedikit calon penguasa lahir dari kemenangan haram. Politik uang, tipudaya, kebohongan serta konflik dilancarkan agar tujuan berkuasa diperoleh dengan sangat mudah. Rakyat tetap terus - terusan tertindasa tanpa ada jalan keluar.
Fenomena kekuasaan disekeliling kita sangat jelas membuktikan bahwa penindasan dengan cara tragis telah menjadi budaya. Rakyat lapar diberi makan, Rakyat terjajah di beri janji, hingga Ia lelap terbuai dalam pelukan Tuan berduit. Tak heran jika kita melihat kekuasaan suatu Daerah yang dibagi bak warisan keluarga. mulai dari kepala keluarga, ibu, anak, ponakan, saudara hingga pembantupun turut serta menganbil peran dalam Pemerintahan. Inilah gambaran bahwa ketakutan Rakyat benar - benar masif hingga tenggelam dibawah alam sadar. Tak ada satupun Rakyat yang sadar untuk bangkit menentang. Mereka malah membunuh moral dan keberanian demi secuil amplop politik.
Kerap Rakyat buta itu dengan bangga bersuara, seolah apa yang telah dilakukanya bukanlah hal yang sangat salah. Baginya siapapun pemimpinya kelak, Ia hanyalah tukang ojek belaka, Ia hanyalah petani atau Ia hanya akan menjadi buruh bangunan. Begitu kerdil dan prematurnya kesadaran Rakyat. Hingga merekapun lupa bahwa tuan dari Negeri yang amat kaya raya ini adalah Rakyat itu sendiri.
Jika kita berfikir lebih dalam, khususnya Masyarakat intelektual, menjadikan fenomena disekitar kita sebagai data pembanding, observasi kelak akan menemukan bahwa kekonyolan Rakyat tidak serta - merta ada begitusaja. Semua berawal dari desain segelintir elite. Mereke telah sengaja menciptakan semuanya. Kesengajaan untuk menciptakan dan melanggengkan kekuasaan dibawah bayang - bayang ketakutan. Sehingga dengan mudah tujuan berkuasa itu dicapai. Mereka telah sadar bahwa Uang akan sangat berarti bagi Manusia lapar. Janji sangat berarti bagi Manusia terdesak. Maka terciptalah dinasti dihawa naungan demokrasi. Hiduplah sekelompok Penguasa dengan kemewahan yang diperoleh dari Rakyat jelata.
Sesungguhnya bukan benar - benar sadar Rakyat terlarut dalam permainan keji dan kejam itu. Namun kemiskinan telah membuatnya sangat terdesak. Kemiskinan telah membuatnya kehilangan akal sehat. Moral dan norma luput sepenuhnya dihadapan uang, sebab tuntutan kebutuhan hidup yang kian hari kian meningkat.
Dibalik keterbatasan diri, Ia (Rakyat) begitu gigih mempertaruhkan semua energi demi nasib anak dan Istri. Ketika rasa lapar mencekik, istri menjerit, anak merintih, si tukang ojek tentu tidak akan berfikir bijak lagi. Seperti itupula sekelompok petani. Hidup ditengah hutan belantara, berhari - hari, berminggu - minggu Ia tak tahu seperti apa kondisi keramaian. Dikala harga taninya jatuh terpuruk, diakala panen gagal dan pertanian ambruk, wajah Bupati yang pernah Ia pilihpun tak tahu seperti apa. Mungkin penyuluh pertanian juga sama terdesaknya dengan petani, hingga petanipun tak tahu jika Instansi itu ada di muka Bumi ini. Tiap tetes keringat dicurahkan demi biaya perguruan tinggi, bahkan kadang harus membiayai lebih dari satu Mahasiswa, meski hidup di ujung derita, Ia tetap berupaya. Biaya Pendidikan membuncit tak jadi soal, baginya semua itu adalah aturan Pemerintah yang telah dianggap Dewa. Ia hanya hidup dibalik dinding kepasrahanya. Lagi - lagi seorang petani, Ia harus tegar dalam ketakutan yang di sembunyikan baik - baik.
Dibalik layar kemerosotan itu, seperangkat Birokrasi asyik bertepuk tangan dengan kemenangn. Menghitung dengan sangat rinci modal politik yang dikeluarkan. Mulailah tercipta politisi korup bermental bajah, dengan berjamaah terus merampas duit Rakyat jelata. Kesejahteraan hanya kerap menjadi bualan. Itulah sebabnya pergantian Pemimpin tidak serta - merta merubah Kehidupan Rakyat disekitarnya. Yang ada hanya bangunan mangkrak dengan perencanaan tak jelas berdiri sana sini, mungkin sebagai alasan agar Kas Daerah bisa di keluarkan. Bersetan asas manfaat, yang jelas bisa mengembalikan pengeluaran saat bertarung merebut kekuasaan, hingga tak heran bangunan Deker-pun diletakan diatas bukit.
Ketakutan terus dikelola Oleh Aparatur Pemerintahan. Dibuatnya Publik mempertuhankan Mereka. Rumah dijaga, istri di jaga, anak di jaga oleh budak - budak kekar tanpa nurani.
Ketika momentum demokrasi mulai mendekat, Mereka sibuk mengumpulkan data kinerja. Hasil secuil dibuat indah seolah maha karya yang sangat luarbiasa. Dipesanlah ribuan Media untuk mempropagandakanya hingga Rakyat dibuat tercengang oleh kebohongan dan tipudaya.
Inilah muara kejahatan yang terstruktur itu, benar - benar telah mengalahkan kebenaran.
Ketakutan Rakyat yang telah membudaya, membuat Mereka hidup dalam tatanan Pemerintahan tanpa cita - cita. Inilah sebab kemiskinan tak akan pernah berubah, bahkan kian hari kian bertambah jumlahnya.
Wakil Rakyat yang harusnya menentang kebobrokan malah memilih bungkam, sebab tiap tahunya Ia juga turut mendapat bagian, bagian hasil "pemerasan" segelintir "Pelacur" Pemerintahan yang bermewah - mewah diatas jeritan dan penindasan Rakyat. Lagi - lagi Rakyat hanya menjadi budak keserakahan.
Mari bersatu, Bahu membahu, menggalang kekuatan untuk membongkar kebusukan sistem ini.
Kita mulai dari kesadaran dan keberanian untuk menjunjung tinggi martabat dihadapan uang dan kekuasaan.
Bram Barakatino

Comments
Post a Comment