Tugas-Mu Bicara Tentang Kami, RAKYAT!!!
![]() |
| Ketgam : Bram Barakatino |
Para perumus sistem Kenegaraan dan Lembaga Negara Kesatuan Repoblik Indonesia, telah benar - benar menempatkan Rakyat sebagai tuan. Mereka telah melihat jauh kedepan seperti apa kelak Bangsa ini akan berjalan. Ide serta gagasan Mereka sepenuhnya di tuangkan dalam tatanan konstitusi Negara demi kemakmuran Rakyat. Semoga para suhada itu tetap hidup dalam sanubari kita.. Amiinn...
Lembaga Negara telah di design sedemikian mungkin agar tercipta keharmonisan dalam Bernegara. Design yg selalu mengedepankan Rakyat ketika menerima hak - haknya agar tidak di bayang - bayangi ketakutan. Lembaga Negara diatur sedemikian mungkin Oleh Perumus demi pendisribusian keadilan yang menyeluruh, aman dan bijaksana. Kekuasaan tertinggi dalam Negara tidak terpusat pada satu jabatan. Bukan Presidensial (Kekuasaan Tertinggi Ada di Tangan Presiden), juga bukan Parlementariat (Kekuasaan Tertinggi ada di Dewan Perwakikan Rakyat). Kedua lembaga itu diberi hak otonom secara konstitusi agar meniadakan kesewenang - wenangan penguasa terhadap Rakyat. Presiden sebagai kekuasaan eksekutif, harus di pantau sepenuhnya Oleh Wakil Rakyat. Wakil Rakyat tidak di beri wewenang dalam eksekusi perumusan pembangunan. Hak eksekusi satu satunya yg Ia miliki adalah persetujuan pada rumusan eksekutif dalam terobosanya mengenai pembangunan Rakyat. Begitu imbabang dan terkendali cita - cita politik. Inilah mahakarya yg dicetuskan para Pahlawan Revolusi. Rakyat diberi wewenang penuh dalam konstitusi. Sebagai pemegang kedaulatan tertinggi di Negara ini. Hak untuk mengutus perwakilanya sendiri di kukuhkan dalam Hukum ke-Negaraan. Mereka diberi kebebasan sepenuhnya agar menentukan siapa yg layak menyampaikan aspirasi miliknya, agar Lembaga eksekutif bisa di tekan untuk memenuhinya. Disanalah tugas pokok anggota DPRD Kabupaten/Kota, DPRD Perovinsi maupun DPRRI. Tugas pokok Mereka adalah bicara tentang kepentingan Rakyat sebagai tuan dari Negara Ini. Melalui partai politik, para calon wakil Rakyat itu di gembleng, di bina dan di bentuk cara pandang politiknya dalam memenuhi hak - hak Keadilan Rakyat. Olehnya itu, Secara parsial (sebagian - Sebagian) Partai politik adalah lembaga pendidikan calon pelayan Rakyat guna memiliki tujuan, kemampuan, gagasan dan cara - cara dalam memecahkan persoalan - persoalan ke-Rakyatan. Berangkat dari hal itu, kampanye sejatinya menjadi ruang atau akses Partai Politik untuk memperlihatkan konsep serta gagasan - gagasan Super Powernya. Gagasan untuk mentaskan kemiskinan dan pengangguran lalu menumbuhkan Sumber daya Manusia. Setelahnya, Rakyat diberi kebebasan sepenuhnya untuk menunjuk wakil dari partai manapun yg mereka sepakati ide - ide serta gagasanya. Dari sanalah sehingga kampanye politik bukanlah milik kandidat, namun kampanye politik sejatinya adalah milik partai. Rakyat harusnya tidak boleh cenderung melihat kandidat usungan partai selaku calon, penglihatan dan kesepakatan pilihan harusnya berangkat dari faham dan cita - cita yang di anut partai politik. Itulah sebabnya, kenapa partai politik disebut sebagai pilar (dasar) demokrasi. Jauh berjalan, seiring perkembangan Zaman, cita - cita politik itu ternyata mulai pudar akibat moral politisi yg terus di rendam dengan kemewahan dan materi. Memanfaatkan kemerosotan Rakyat, menggunakan kemiskinan sebagai alat menciptakan kekuasaan. Kini Para pelayan Rakyat itu perlahan menjadi majikan. Meski Mereka masi di utus dengan cara - cara yg sama, yakni cara - cara berfikir para pejuang revolusi Kemerdekaan yang di tuangkan dalam konstitusi. Seperti apa yg kita selenggarakan tiap 5 tahun sekali. Namun ternyata di balik kekuasaan itu, Mereka telah buta dan tuli pada jeritan Rakyat yg harusnya mereka layani. Moral pelayanan berganti dengan ambisi kekuasaan. Haus pada kemewahan dan rakus akan harta benda. Semua adalah sebab Kemenangan sepenuhnya diraih dengan politik uang dan intimidasi. Maka tak heran jika politisi memelihara banyak preman, menyewa Polisi dan memperketat keamanan diri. Hampir seluruh rumah jabatan dijaga dengan hati - hati, sampai - sampai Rakyat yg ingin berkunjungpun harus dipilih dan di teliti, seolah teroris yg hendak meledakan diri. Rakyat yg tertindas dibawa garis kemiskinan tidak punya pilihan lain selain menerima amplop politisi. Sebap, baginya keadilan telah menjadi misteri. Momentum demokrasi hanya menjadi kegiatan tanpa tujuan yg mulia. Tidak ada lagi perang konsep dan gagasan antar politisi lintas partai dalam merebut dukungan Rakyat. Kini pemandangan yang ada hanyalah perang amplop, caci maki, premanisme, janji - janji dan isu yg dikemas baik - baik Oleh peliharaan - peliharaan politisi. Ditebarnya semua alat - alat kebohongan itu sampai ke "Akar Rumput". Membuat Rakyat jelata memangsa mentah - mentah racun kebodohan lalu yakin untuk memilih Wakil Rakyat tanpa konsep dan gagasan yg jelas. Inilah fenomen politik masa kini. Politik yang entah siapa yang di perjuangkan. Rakyat hanya tahu melihat baliho Paslon dan Calon serta menanti kabar dan amplop. Partai politik kini sirnah di permukaan Rakyat. Ia lebih memilih menikmati pajak yg dipungutnya lewat Anggota Dewan yang telah terpilih. Soal kampanye politik tidak menarik lagi Olehnya. Jika hari pemilihan telah tiba, cukup memakaikan baju partainya pada Orang yg punya duit, nama besar dan masa besar. Bersetan dia punya gagasan atau tidak, yg pokok dia Bisa merebut Kursi Dewan. Entah dia mantan preman, mafia ataupun koruptor, itu bukan persoalan bagi Mereka. Nanti media dan budak politik yg turun meyakinkan Rakyat sampai ke pelosok Desa sekalipun. Bagi Mereka, uang adalah alat paling mutakhir memenangkan hati Rakyat, sebab kemiskinan telah merajalela. Pengangguran bertebaran dimana - mana, jadi Masyarakat tentu tak punya alasan menolak amplop politik itu. Di ujung masa, di Abad ini, di saat sekarang ini, kebenaran ini telah luput dari akal sadar Rakyat, maka tak heran jika kekuasaan hanya bermain pada satu lingkaran keluarga saja. Habis Bapak, muncul Ibu, Anak, Ponakan, Paman, bahkan pembantu rumahpun dibuat untuk memakai pakaian Dewan, asal bisa loyal dan menurut setelah berkuasa. Mereka mulai lupa, bahwa sendal jepit, kancing baju bahkan air buat membersihkan kotoran tinjanya diperoleh dari uang Rakyat. Rakyat di paksa tertib membayar pajak oleh Mereka, namun Rakyat tak bisa lagi memaksa Mereka meski sebenarnya itulah yg benar. Contoh sederhana, ketika kita memasuki Area pelabuhan, jika kita menolak membayar karcis palang, yakin anda pasti di caci dan di maki, bahkan sentuhan fisikpun bisa terjadi. Tapi apakah benar jika Wakil Rakyat di buat dengan cara - cara yg Sama akan terima..? Misalkan ketika Anggota Dewan asik tertidur, sibuk kampanye saat Rakyat dilanda banjir..?? Apakah bisa kita mencaci Mereka ketika anak - anak para petani putus sekolah, atau karna biaya pendidikan yg mencekik dan kemiskinan bertebaran dimana - mana..?? Saya rasa tidak kawan. Bahkan sampai Mayat Bayi jadi jaminan biaya Rumah Sakitpun, Wakil Rakyat masi saja memilih diam. Strategi para Pahlawan Revolusi dalam menyusun Lembaga Negara sangat luhur dan mulia. Dalam benak Mereka tiada lain hanyakah Rakyat agar bisa sejahtera. Sejahtera seperti yg di amanahkan Oleh Kemerdekaan yang di tuang sepenuhnya dalam Undang - Undang Dasar Negara Repoblik Indonesia.
"Bahwa sesungguhnya // Kemerdekaan itu ilah hak segala Bangsa// dan Oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus di hapuskan // Karen tidak sesuai dengan pri Kemanusiaan dan pri Keadilan".
Bait itu adalah semboyan para Revolusionis ketika membangun Negara ber bentuk Repoblik ini. Jika kita masi merasa merdeka dari semua kebohongan penguasa, jika kita masi merasa puas dari kemiskinan yg mulai merajalela, jika kita masi puas dengan keadilan yg diperjual belikan, mari kita sama - sama memilih diam dan bungkam. Namun jika kita telah benar - benar muak dari semua ke bobrokan ini, mari kita ciptakan perubahan. Kita rebut kembali hak - hak yg telah hilang. Harta benda kita yg dipergunakan oleh cukong partai demi kesenangan pribadi mereka. Saya tidak pernah bercita - cita jadi penguasa. Lillahi ta'ala, Demi Akhirat dan Agamaku, saya tidak punya tujuan berkuasa. Saya hanya ingin memimpin perubahan keadilan yg di kotori tangan - tangan serakah itu. Demi harga diri serta prinsip politik, Saya hanya akan mencapai cita - cita ini diatas kemurnian sikap dan perjuangan rakyat. Cita - cita ini mewakili nasib ribuan anak petani di pelosok Negeri Sultra ini, mewakiki ribuan anak tukang pikul di seluruh Dermaga Sultra ini, mewakili ribuan anak terlantar yg bertebaran dimana mana. Dalam hati saya, niat saya, saya inginkan 2019 mendatang, ribuan Masyarakat bertandang - berbondong bondong menuju Dewan Perwakilan Rakyat. Berbaris dengan satu tujuan untuk menghakimi Mereka - Merek yg hanya tau berfoya - foya dengan uang Rakyat, lalu lupa akan tugasnya. Sebab, jika sejarah tidak di ukir di masa ini, maka keberanian anak dan cucu kita kedepan tidak akan pernah muncul kepermukaan. Memang berat Untuk mencapai Revolusi Perubahan itu. Tidak heran banyak kawan - kawan saya mengatakan, jika kelak saya juga turut duduk sebagai Wakil Rakyat, sulit rasanya untuk mengubah persekongkolan jahat Orang banyak dan saya hanya sendiri. Bagiku, itu hanya celoteh manusia tanpa cita - cita dan keberanian, jika saya bisa bersama Rakyat yang mengutusku, lalu apa alasanya saya harus menganggap diri berjuang sendirian..?? Kalau saya sendiri dari dalam tidak bisa mengubah, saya akan himpun seluruh Rakyat yg menunjuku, agar menghukum Mereka - Mereka yg tetap buta dan tuli pada kemiskinan dan ketertindasan.
Salam Dari Saya,
Bram Barakatino.
Bram Barakatino.

Siap
ReplyDelete